Pertama2, catat bahwa survey2 menunjukkan bahwa sekitar 40% ilmuan percaya tuhan, jadi theist adalah minoritas (Survey terbesar adalah oleh Edward J. Larson dan Larry Witham, tahun 1996, di laporkan dalam jurnal ilmiah “Nature.”)
Untuk setiap ilmuan atau filsuf yang percaya pada tuhan, ada satu yang tidak percaya. Selain itu, seperti yang saya rasa anda setuju, kebenaran sebuah keyakinan bukan di tentukan oleh berapa banyak orang yang mempercayainya. Juga, penting untuk menyadari bahwa atheist tidak melihat ilmuan atau filsuf terkenal dengan cara yang sama theist memandang para pemimpin agama mereka.
Seorang ilmuan terkenal hanyalah manusia; ia mungkin ahli di satu bidang, tapi saat ia bicara tentang masalah lain, kata2nya tidak dapat memiliki nilai yang sama. Banyak ilmuan terkenal membuat diri mereka sendiri terlihat bodoh dengan berbicara pada subjek yang berada di luar bidang keahliannya.
Juga, catat bahwa bahkan pandangan ilmuan terkenal menghadapi skeptisisme oleh masyarakat ilmiah. Keahlian yang di akui dalam bidang tertentu tetap harus memberikan bukti atas teori mereka; sains berdasarkan pada hasil yang dapat direproduksi dan di konfirmasi ulang secara independen. Teori2 baru yang tidak sesuai dengan pengetahuan ilmiah yang telah ada akan menjadi subjek kritik; namun bila data percobaan menunjukkan teori itu benar, maka teori ini akan menggantikan teori yang lama.
Contohnya, relativitas khusus dan mekanika kuantum sangat kontroversial, dan membuang banyak sekali teori ilmiah yang telah ada. Namun segera ia diterima dengan cepat setelah percobaan2 besar di lakukan dan membuktikan mereka benar. Teori2 pseudoilmiah seperti Harun Yahya ditolak bukan karena kontroversial, namun karena mereka tidak dapat tahan terhadap kritik.
DIarsipkan di bawah: Tokoh


apakah anda sudah mendengar kritikan2 ttng teori evolusi? trbukti kan bahwa teori evolusi runtuh ( saya percaya ini, kita buktikan nanti klo daeng ingin di lanjutkan)
teori ilmiah seperti yg anda bilang memang gamapang sekali runtuh, jika ada teori baru yg menggantikan.
tapi saya penasaran ttng hal2 berikut ini:
1. daeng fattah jadi atheis karena kecewa dengan agama ( doa tidak di jawab) sehingga menjadi atheis yg percaya pada evolusi
2. seandainya teori evolusi gugur ? apakah daeng ttp menjadi atheis? pegangan apa lagi yg anda punya selain evolusi?
Saya sudah membuat sanggahan terhadap klaim keruntuhan teori evolusi
1. Benar karena kekecewaan saya terhadap agama. Teori evolusi justru saya pelajari kemudian setelah menjadi atheist.
2. Seandainya teori evolusi gugur saya akan memikirkan teori lain. Selain itu masyarakat ilmiah tentunya punya teori pengganti bila teori evolusi gugur.
saya rasa atheisme sekarang menjadi kelihatan cool krn bnyk diantara mereka adalah ilmuwan dan orang2 pintar. sehingga pendekatan ttng atheisme adalah berdasrkan hal yg dianggap rasional dan scientifik. dalam hal ini pegangan atheis paling masyhur ( mngkin satu2nya) adalah teori evolusi.
nah jika kemudian teori evolusi itu terbantahkan, bukankah anda seharusnya berubah menjadi theis? seharusnya implikasinya begitu. klo anda memikirkan theori lain ( jika evolusi gugur) maka berarti anda ber” atheis” dengan buta donk.
Teori evolusi sama saja dengan teori lain dalam sains. Knapa athist perduli dengan teori evolusi adalah karena orang2 theist selalu menolaknya sementara mereka tidak menolak, bahkan mendukung, teori2 lain dalam sains dengan kitab sucinya. Dan dalam sains, pengetahuan kita selalu berkembang. Bila sebuah teori gugur, teori lama, yang telah ditolak, tidak menggantikannya. Tetapi teori baru.
Penciptaan bahkan bukanlah teori. Ia tidak dapat membuat prediksi2. Tidak dapat menjelaskan tentang platipus, tentang mengapa selama 4 miliar tahun usia bumi kehidupan yang ada hanya bakteri, tentang gen2 sampah pada DNA manusia, pada kemiripan sifat primata dengan manusia, tentang munculnya virus baru, tentang keberadaan dinosaurus, tentang jaring2 kehidupan, ataupun tentang sintesis protein. Sebuah teori pengganti evolusi harus mampu menjelaskan fakta2 ini.